AndyBandex 2012. Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 03 Desember 2012

makalah "Evaluasi Kurikulum"


PENDAHULUAN

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Makalah ini akan membahas mengenai pengertian evaluasi kurikulum, pentingnya evaluasi kurikulum, prinsip evaluasi kurikulum dan macam-macam model evaluasi kurikulum.






PEMBAHASAN

  •         Pengertian Evaluasi Kurikulum

Pemahaman mengenai pengertian evaluasi kurikulum dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang bervariasi menurut para pakar kurikulum. Oleh karena itu dapat kita jabarkan definisi dari evaluasi dan definisi dari kurikulum secara per kata sehingga lebih mudah untuk memahami evaluasi kurikulum. Pengertian evaluasi menurut joint committee, 1981 ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa obyek. Purwanto dan Atwi Suparman, 1999 mendefinisikan evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang  suatu program. Rutman and Mowbray 1983 mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi  dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan. Chelimsky 1989 mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Sedangkan  pengertian kurikulum adalah[1]
  1.      Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
  2. Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang  digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan  kegiatan pembelajaran (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 725/Menkes/SK/V/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan).
  3. Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi (Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa).
  4. Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai;
  5. Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

Dari pengertian evaluasi dan kurikulum di atas maka dapat kita simpulkan bahwa pengertian evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manfaat, kesesuaian efektifitas dan efisiensi dari kurikulum yang diterapkan. Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi, dan efektivitas suatu program.[2]

  •       Pentingnya Evaluasi Kurikulum

Evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi  kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya, yang mana informasi ini sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan  apakah kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka  penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang berubah.[3]
Evaluasi kurikulum dapat menyajikan bahan informasi mengenai area – area kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan menuju yang lebih baik. Evaluasi ini dikenal dengan evaluasi formatif. Evaluasi ini biasanya dilakukan waktu proses berjalan. Evaluasi kurikulum juga dapat menilai kebaikan kurikulum apakah kurikulum tersebut masih tetap dilaksanakan atau tidak, yang dikenal evaluasi sumatif.[4]

  •       Prinsip Evaluasi Kurikulum

Prinsip-prinsip evaluasi kurikulum adalah sebagai berikut :
a.       Tujuan tertentu, artinya semua program evaluasi kurikulum terarah dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan secara jelas dan spesifik.
b.      Bersifat objektif, dalam arti berpijak pada keadaan yang sebenarnya bersumber dari data yang nyata dan akurat.
c.       Bersifat komprehensif, mencakup semua dimensi atau aspek yang terdapat dalam ruang lingkup kurikulum.
d.      Koorperatif dan tanggungjawab dalam perencanaan. Pelaksanaan dan keberhasilan suatu program evaluasi kurikulum merupakan tanggung jawab bersama pihak-pihak yang terlibat dalam proses pendidikan seperti guru, kepala sekolah, orang tua, bahkan siswa itu sendiri.
e.       Efisien, khususnya dalam penggunaan waktu, biaya, tenaga, dan peralatan yang menjadi unsur penunjang.
f.       Berkesinambung hal ini diperlukan mengingat tuntutan dari dalam dan dari luar sistem sekolah yang meminta diadakannya perbaikan kurikulum.

  •       Macam-macam Model Evaluasi Kurikulum

Model evaluasi kurikulum menurut Hamid Hasan pada dasarnya dapar dikelompokkan pada evaluasi model kuantitatif dan model kualitatif.[5]
  1.        Model Kuantitatif

Model kuantitatif ditandai oleh ciri yang menonjol dalam penggunaan prosedur kuantitatif untuk mengumpulkan data sebagai konsekuensi penerapan paradigma positivistis.
Diantara model evaluasi yang masuk pada kategori kuantitatif adalah model yang dikembangkan oleh tyler, dimana evaluasi yang dikemukakan dibangun atas dua dasar, yaitu : evaluasi yang ditujukan kepada tingkahlaku peserta didik sebelum pelaksanaan kurikulum serta pada saat peserta didik telah melaksanakan kurikulum, sehingga evaluasi difokuskan pada dimensi hasil belajar.

2.  Model Kualitatif
Model evaluasi kualitatif berdasarkan pada filsafat fenomenologi dan pengembangan metodologi kualitatif dalam disiplin ilmu pendidikan.
Adapun karakteristik model evauasi kualitatif sebagai berikut 

3. Menggunakan metologi kualitatif dalam pengumpulan data evaluasi.

           4. Selalu menempatkan proses pelaksanaan kurikulum sebagai fokus utama evaluasi.
       5.Data yang dikumpulkan terutama data kualitatif yang kaya dengan deskripsi dan dianggap lebih      memberikan makna dibandangkan data kuantitatif yang kering, karena data kualitatif dianggap lebih dapat mengungkapkan apa yang terjadi di lapangan.
        6.  Model evaluasi kualitatif adalah pengakuan adanya kenyataan yang banyak (multiple realities). Menurut pandangan kualitatif kenyataan bukan sesuatu yang dipersepsi oleh evaluator atau orang yang memeberi tugas kepada evaluator atau kebenaran yang diakui orang bnyak. Oleh karena itu, persepsi orang-orang yang terlibat seperti peserta didik, guru, kepala sekolah dan sebagainya adalah kenyataan yang mewakili masing-masing individu.

Model evaluasi kualitatif terdiri dari :
  •          Model Studi Kasus.

Model studi kasus memusatkan perhatiannya pada kegiatan pengembangan kurikulum di satu satuan pendidikan.

          ·       Model Iluminatif
Model iluminatif mendasarkan dirinya pada paradigma antropologi sosial. Model iluminatif memberikan perhatian terhadap lingkungan luas dan bukan hanya kelas di mana suatu inovasi kurikulum dilaksanakan.

          ·        Model Responsif
Model renponsif dikembangkan oleh Stake. Model ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari model countenance-nya, meskipun dalam beberapa hal terdapat perbedaan yang prinsipil.

   Menurut Nana Syaodih Sukmadinata ada tiga model evaluasi kurikulum, yaitu Evaluasi model penelitian, Evaluasi model objektif, dan Model campuran multivariasi.[6]
          1.      Evaluasi model penetian
Evaluasi kurikulum menggunakan model penelitian didasarkan atas teori dan metode tes psikologis dan eksperimen lapangan.
          2.      Evaluasi model objektif
Dalam model objektif, evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pengembangan kurikulum. Teori ini dinamakan teori fungsional. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain tetapi diukur dengan perangkat objektif (tujuan khusus).
          3.      Evaluasi model campuran multivariasi
Evaluasi model perbandingan (comparative approach) dan model Tyler dan Bloom melahirkan evaluasi model campuran multivariasi. Yaitu strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari kedua pendekatan tersebut.






KESIMPULAN

Evaluasi kurikulum terdiri dari kata evaluasi dan kurikulum. Evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi, dan efektivitas suatu program. Kata kurikulum berarti kurikulum potensial berupa dokumen kurikulum. Maka evaluasi kurikulum dapat diartikan sebagai penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi, dan efektivitas suatu dokumen kurikulum.
Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian, karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Evaluasi kurikulum penting dilakukan dalam rangka  penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar.
Adapun prinsip-prinsip evaluasi kurikulum adalah adanya tujuan tertentu, bersifat obejektif, komprehensif, koorperatif, dan bertanggung jawab dalam perencanaan, efisien, dan berkesinambungan.
Model evaluasi kurikulum menurut Hamid Hasan dikelompokkan pada evaluasi model kuantitatif dan model kualitatif. Adapun model evaluasi kurikulum menurut Nana Syaodih Sukmadinata ada tiga, yaitu: Evaluasi model penelitian, Evaluasi model objektif, dan model campuran multivariasi.









DAFTAR PUSTAKA

Hidayati, Wiji. Pengembangan Kurikulum, Yogyakarta: Pedagogia, 2012.
Sukmadinata, Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.
http://zulharman79.wordpress.com/2007/08/04/evaluasi-kurikulum-pengertian-kepentingan-dan-masalah-yang-dihadapi/


[1] Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan,(2003). Buku II –Kurikulum Program Studi.
[2] http/makalahkumakalahmu.wordpress.com
[3] Lindeman, M. (2007). Program Evaluation. [Internet]. Available from: <www.tedi.uq.edu.au/conferences/A_conf/papers/Isaacs.html> Accessed 3 July 2007].
[4] Posner, G.J., (2004). Analyzing The Curriculum. Mc Graw Hill. United States.
[5] Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 186-187.
[6] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 185-188.

0 komentar:

Poskan Komentar